Kasus Hison Bin Sahen

10 Dec 2015 18:08
Permasalahan awal sampai pada didudukanya suadara Hison bin Sahen di kursi pesakitan sebagai terdakwa tidak lepas dari permasalahan tanah masyarakat yang digarap oleh PT.Berjaya Agro (BAK) Kalimantan sejak tahun 2005. Kurang Lebih 4.500 Hektare wilayah hutan adat masyarakat Desa Kemawen dibabat habis dan dijadikan perkebunan kelapa sawit oleh PT.Berjaya Agro Kalimantan. Setelah adanya penolakan dari warga PT.Berjaya Agro Kalimantan akan membangunkan kebun untuk masyarakat. Pada tahun 2006-2007 perusahaan meminta warga Desa Kemawen untuk membuat koperasi dan terbentuklah dua koperasi yaitu :
1. Koperasi HARAPAN BARU ketua An. GUSTI MISIANI Badan Hukum Nomor : 150/BH/DK-PM/II/III/2008. Akta Notaris : RUDI BIROWO Tanggal : 27 Juni 2006.
2. JAYA BULAU MANDIRi ketua An HISON. Badan Hukum Nomor : 138/BH/D-PM/III/2007 Akta Notaris RUDI BIROWO Ttanggal: 14 Maret 2007 

Sampai pada tahun 2009 masyarakat Desa Kemawen tidak dibangunkan kebun dimana alasan perusahaan bahwa Program REVITALISASI di wilayah Propinsi Kalimantan Tengah tidak memenuhi syarat dan wilayah kabupaten lain tidak ada mengajukan sebagaimana program tersebut, oleh kerna itu PT. BAK belum bisa membangun kebun masyarakat Kamawen. 

Pada tahun 2012 terbentuklah Tim perwakilan masyarakat adat dengan tujuan untuk menyelesaikan permasalahan antara warga Desa Kemawen dengan pihak PT.Berjaya Agro Kalimantan. Salah satu upaya yang dilakukan tim tersebut adalah mengirim surat ke DPRD Barito Utara dan akhirnya pada tanggal 2 Oktober 2012 diadakanlah rapat di DPRD dengan di Pimpin oleh H.M Andreriansyah, BA.SH serta juga dihadiri oleh Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan serta perwakilan dari PT.Berjaya Agro Kalimantan atas nama Edno Susadi. Namun hasil kesepakatan tersebut juga tidak di realisasikan.

Akhirnya pada tanggal 10 Januari 2015, masyarakat Desa Kemawen kembali melalukan aksi dengan cara menutup sebagian jalan masuk perusahaan dengan mengunakan tali rotan. Kegiatan ini bertujuan untuk menyampaikan bahwa masyarakat meminta pihak perusahaan supaya hadir ketengah-tengah warga untuk menyelesaikan permasalahan yang sudah berlarut-larut ini. Pihak security perusahaan akhirnya hadir pada saat kejadian, sebagai yang tidak mempunyai otoritas maka masyarakat hanya dapat menyampaikan agar security tersebut menyampaikan kepada pimpinan perusahaan bahwa pada tanggal 11 esok hari, masyarakat akan mengelar ritual adat dilokasi perusahaan.

Pada tanggal 11 Januari 2015 seperti yang telah masyarakat sampaikan maka masyarakatpun mendatangi kantor PT.Berjaya Agro Kalimantan. Masyarakat datang pagi hari dengan membawa perlengkapan ritual adat seperti mandau, tombak, gong dan lain-lain. Setelah sekian lama masyarakat menunggu dan pihak perusahaan tidak ada yang datang maka sekitar pada pukul 15.00, masyarakat mengelar adat hinting pali. Hinting pali terbuat dari dari rotan  yang direntangkan memanjang, dimana sisi kanan kirinya diikatkan kepohon bambu sebagai tiang penyangga, ditenggah rentangan rotan terdapat ikatan daun sawang beberapa helai. Tujuan dari pemasangan hinting pali adalah untuk menunjukan bahwa tanah diwilayah pemasangan terdapat masalah, sehingga perlu diadakan komunikasi antara kedua belah pihak. Selama belum adanya kesepakatan dua belah pihak mengenai penyelesaian permasalahan maka selama itu pula hinting pali tidak bisa dilepas. Dimana pemasangan hinting pali dilakukan oleh Damang (Kepala Adat) Kecamatan Monttalat. Untuk menjaga hinting pali warga akhirnya memutuskan untuk menginap dikantor perusahaan PT.Berjaya Agro Kalimantan.

Pada tanggal 12 Januari 2015, pihak Bupati dan para SKPD mendatangi lokasi pemasangan hinting pali dan dalam pertemuan tersebut Bupati berjanji menyelesaikan permasalahan tuntutan masyarakat dalam waktu seminggu. Atas adanya janji dari Bupati masyarakat mensetejuinya. Setelah terjadi persetujuan Bupati meminta bahwa hinting pali harus dilepas namun masyarakat mengatakan bahwa melepas hinting pali juga harus mengunakan ritual adat. Selama masih dalam tahap pembicaraan mengenai pelepasan hinting pali, ternyata hinting pali sudah dilepas dan atau dibuka yang tidak diketahui siapa yang membukanya. Melihat kondisi demikian terjadi keributan kecil dimana masyarakat histeris karena menganggap budaya adat mereka tidak dihormati. Dengan melihat kondisi seperti ini Bupati akhirnya menyangupi untuk mencarikan syarat-syarat keperluan ritual adat untuk mengadakan pembukaan hinting pali.

Pada tanggal 13 Januari 2015, syarat-syarat mengelar ritual adat baru lengkap diterima oleh warga pada malam hari. Dimalam hari itu juga masyarakat mengelar ritual adat menganjan rumah keramat.

Pada tanggal 14 januari 2015, masyarakat sudah berencana untuk membubarkan diri dan sebagian yang lain sudah pulang ke Desa. Saat masyarakat sedang ingin melakukan sarapan pagi, masyarakat mendapatkan informasi bahwa perwakilan Ombusman Palangka Raya mau menuju lokasi dan akhirnya masyarakat menunggu kedatangan mereka. Setelah melakukan pertemuan dengan Ombusman, masyarakat mendapatkan informasi bahwa pihak Kepolisian menuju kelokasi dan warga bersepakat untuk menunggu pihak kepolisian tersebut dengan sambil menari Manasai mengelilingi rumah adat. Setelah pihak Kepolisian datang masyarakat di suruh membuat dua kelompok, dimana ada kelompok ibu-ibu dan anak-anak dan satunya lagi kelompok yang membawa peralatan ritual adat. Setelah itu pihak Kepolisian melakukan pembubaran paksa dan melakukan penangkapan serta penahanan terhadap saudara Hison bin Sahen.

Selengkapnya....


Attachments

Resume_Kasus_Hison_bin_Sahen.docx

Berita Terbaru