Kriminalisasi Joyo, Petani Lumajang

23 Dec 2015 10:51
Tarik alias P. Joyo (65) Tarik alias P. Joyo (65)
Tarik alias P. Joyo, 65 tahun, seorang petani dari Dusun Sidorejo, Desa Pandansari Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo dijadikan tersangka oleh Polisi Resort Lumajang. Joyo dijadikan tersangka karena dituduh telah melakukan tindak pidana kegiatan perkebunan tanpa izin Menteri di dalam kawasan hutan sebagaimana di maksud dalam Pasal 92 ayat (1) huruf a juncto Pasal 17 ayat (2) huruf b subsider Pasal 94 ayat (1) huruf a jo. Pasal 19 huruf a Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan. Saat ini, Joyo ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Lumajang, Jawa Timur sambil mengikuti proses hukum yang harus dijalaninya.

Awalnya, sekitar 15 tahun yang lalu, Joyo bersama istrinya, Sumi, mulai menggarap lahan di Kawasan Hutan Blok Pasang Gosong masuk wilayah Desa Kenongo, Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang setelah diajak oleh Pihak Perhutani Probolinggo. Meskipun sudah cukup lama menggarap, pria yang tidak bisa baca tulis ini baru menetap di lahannya sekitar 6 tahun terakhir. Ia menggarap lahan di wilayah Pasang Gosong setelah membayar pendaftaran buka lahan sebesar Rp. 200.000,- kepada pihak Perhutani Probolinggo dan mendapat lahan garapan seluas 0,5 hektare.

Joyo tidak sendirian menggarap lahan di kawasan Pasang Gosong, ada sekitar + 600 warga lainnya dan tergabung dalam beberapa kelompok tani seperti Forum Perjuangan Petani Tengger, LMDH Sari Rejo, LMDH Mitra Wana, LMDH Pasang Gosong. Mereka semua mendapat lahan setelah membayar biaya buka lahan sebesar Rp. 200.000,-. Rata-rata dari mereka menanami lahannya dengan tanaman sayur-sayuran seperti jagung, wortel, kubis, ada juga yang ditanami kopi dan lainnya.

Selain membayar uang buka lahan, mereka juga dipungut biaya bagi hasil setiap habis panen ke ketua kelompok tani. Begitu juga dengan Joyo, namun dia tidak pernah mendapatkan bukti pembayaran dari uang bukaan lahan dan uang bagi hasil karena selalu kehabisan kwitansi. 

Penangkapan Joyo oleh Perhutani
Pada tahun 2015, joyo terlibat di dalam kelompok masyarakat yang akan mengajukan program IP4T (Inventarisasi Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah)  sebagaimana diatur dalam Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri RI, Menteri Kehutanan RI, Menteri Pekerjaan Umum RI, dan Kepala BPN RI Nomor: PB.3/Menhut-11/2014, Nomor: 17 PRT/M/2014, Nomor: B/SKB/X/2014 tentang Tata Cara Penyelesaian Tanah di dalam Kawasan Hutan. Joyo ikut kelompok masyarakat tani Lumajang yang bernama Pokmas (Kelompok Kerja Masyarakat) yang diketuai oleh Sunardi (Ketua I) dan Tri Waluyo (Ketua II). Sunardi dan Tri Waluyo mengajak pindah Joyo yang sebelumnya tergabung dalam kelompok tani Probolinggo (LMDH Probolinggo). Mereka mengatakan kepada Joyo kalau lokasi lahan yang dia garap masuk daerah Lumajang bukan Probolinggo. 

Semenjak dia pindah ke kelompok Lumajang, Joyo sudah tidak pernah membayar setoran lagi atau uang bagi hasil ke kelompok Probolinggo. Hasilnya, tanah yang ia garap ditutup oleh pihak LMDH Probolinggo. Meskipun sudah ditutup, Joyo masih tetap menggarap. Lahan itu sempat dibuka tutup oleh Pihak LMDH Probolinggo.

Pada hari Selasa tanggal 28 Juli 2015, sekitar pukul 11.00 WIB, ada sekelompok orang yang datang ke kediaman Joyo. Tiba-tiba saja salah satu mereka menyergap Joyo dari belakang sesaat setelah memberi makan kambing. Kemudian ikat pinggangnya dilucuti dan celananya diplorotin sampai kemaluannya kelihatan. Uang yang ada di ikat pinggang terjatuh dan diambil sekelompok orang itu.

Tidak hanya itu saja, ia juga mendapat tendangan di bagian tulang rusuknya. Kemudian Joyo dibawa ke jalan setelah itu dimasukan ke dalam sebuah mobil. Kekerasan yang dialami oleh Joyo tidak sampai disitu, ketika di dalam mobil, dia juga mendapatkan pukulan oleh kelompok orang itu. Ia mendapat pukulan di bagian wajah kanan dan kirinya. Dia tidak mengetahui siapa yang memukulnya, tapi yang pasti sopir mobil itu ikut memukulinya. 

Joyo tidak hanya mendapatkan kekerasan fisik saja, ia juga ditakut-takuti oleh sekelompok orang yang menangkapnya kalau dia akan dibuang di daerah Surabaya. Bahkan dari mereka ada yang bilang supaya ia dibunuh saja. Saat itu kondisi Joyo sangat ketakutan. Ia tidak mengetahui dan mengenali orang-orang tersebut satu persatu karena kondisinya saat itu  sangat ketakutan.

Menurut Sumi (istri Joyo), sekelompok orang yang datang ke kediamannya dan melakukan penangkapan serta penganiayaan itu adalah orang-orang dari pihak Perhutani. Saat itu ia berada ditempat kejadian dan menyaksikan kejadian saat suaminya ditangkap dan dipukuli. Sumi melihat diantara sekelompok orang tersebut, ada seseorang yang memegang celana suaminya dan melihat suaminya sudah dalam keadaan tanpa memakai celana (telanjang).

Menurut Sumi, orang yang menangkap suaminya itu bernama Munir (Perhutani), sedangkan salah satu orang yang yang memukuli, menendang, dan memplorot celana suaminya bernama Joko. Menurut salah satu narasumber, Joko adalah seorang preman. Ada banyak pihak yang ikut menangkap Joyo, ada dari pihak Perhutani Probolinggo, Polhut, preman, LMDH dan juga tetangga-tetangga dari Joyo sendiri yang mereka ikut kelompok LMDH Probolinggo.

Ketika melihat suaminya dalam keadaan terluka dan telanjang, Sumi meminta kepada sekelompok Perhutani itu untuk berhenti memukulinya. Namun dia malah mendapat bentakan dari Munir dan diancam akan ditangkap juga.

Akibat dari kekerasan yang dialami, Joyo mendapat luka fisik yang cukup parah. Wajah sebelah kirinya memar, lebam dan berdarah. Tulang rusuknya sedikit geser akibat tendangan keras yang didapatnya. Sampai ketika terakhir dikunjungi (22 Oktober 2015) dia masih merasakan sakit di bagian rusuknya itu. Kekerasan fisik yang didapat juga mengakibatkan pendengarannya sedikit terganggu. Sedangkan istrinya, untungnya tidak mendapatkan kekerasan sebagaimana yang dialami Joyo.

Setelah ditangkap dan dibawa ke mobil, Joyo di bawa dan diserahkan ke Polres Lumajang oleh pihak Perhutani. Pihak Perhutani juga mengambil cangkul milik Ajun (tetangga Joyo) yang dititipkan digubuknya. Perhutani juga mengambil uang milik Joyo sebesar Rp. 3.225.000,00. Joyo dipaksa untuk mengakui uang tersebut adalah hasil pungutan biaya pengkavlingan tanah hutan. Padahal itu merupakan uang miliknya yang didapat dari hasil menjual sayur-sayuran dan upah kerja yang didapat oleh Joyo dan istrinya.

Selengkapnya.....

Attachments

Kronologi_Kriminalisasi_Petani_Joyo.pdf

Berita Terbaru